Anjangsana IV BSM digelar Tgl. 06 Mei 2018, tuan rumah om Bhagong Kinan di Pemancingan Barokah II Tembalang

Friday, October 3, 2014

Tiga Ajaran Kepemimpinan

Tiga Ajaran Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara


Dalam perjalanan hidupnya Ki Hajar Dewantara tidak hanya dikenal sebagai bapak Pendidikan, namun juga sebagai pemimpin yang tangguh. Dimana ia memotivasi orang-orang untuk terus menerus belajar dan belajar tanpa henti. Kharismanya sebagai pemimpin dalam memajukan pendidikan menjadikan ajarannya terus menjadi motivasi hingga sekarang dan diabadikan dalam kaligrafi semar dibawah ini.


Seni Kaligrafi Semar disamping adalah salah satu karya RM Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hajar Dewantara. Aksara jawa dan susunannya memuat tiga ajaran kepemimpinan yang sampai saat ini masih digunakan sebagai motivasi.

Ketiga ajaran tersebut adalah :

1. Ing Ngarso Sun Tulodo
Ing Ngarso mempunyai arti di depan / di muka, Sun berasal dari kata Ingsun yang artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang - orang disekitarnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah kata suri tauladan.
Dalam ajaran Ki Hajar Dewantara yang pertama ini menggambarkan situasi dimana seorang pemimpin bukan hanya sebagai orang yang berjalan di depan, namun juga harus menjadi teladan bagi orang-orang yang mengikutinya. Kata Ing Ngarso tidak dapat berdiri sendiri, jika tidak mendapatkan kalimat penjelas dibelakangnya.
Artinya seorang yang berada di depan jika belum memberi teladan maka belum pantas menyandang gelar 'Pemimpin'. Jika kita melihat kepemimpinan dari orang-orang dalam sejarah, maka dapat kita lihat betapa perbuatan sang pemimpin menjadi inspirasi bagi orang yang dipimpinnya.






2. Ing Madyo Mbangun Karso
Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mbangun berarti membangkitan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadi makna dari kata Ing Madyo Mbangun Karso adalah seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat. Karena itu seseorang juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungannya dengan menciptakan suasana yang lebih kondusif untuk keamanan dan kenyamanan.
Ajaran kedua ini sarat dengan makna kebersamaan, kekompakan, dan kerjasama. Seorang pemimpin tidak hanya melihat kepada orang yang dipimpinnya, melainkan ia juga harus berada di tengah-tengah orang yang dipimpinnya. Maka sangat tidak terpuji bila seorang pemimpin hanya diam dan tak berbuat apa-apa sedangkan orang yang dipimpinnya menderita.
Selain itu pemimpin harus kreatif dalam memimpin, sehingga orang yang dipimpinnya mempunyai wawasan baru dalam bertindak. Ditambah lagi seorang pemimpin harus melindungi segenap orang yang dipimpinnya.

3. Tut Wuri Handayani
Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan Handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialah seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh orang-orang disekitar kita menumbuhkan motivasi dan semangat.
Ajaran kepemimpinan yang ketiga ini merupakan semboyan dari dunia Pendidikan, yang tentunya mempunyai makna yang mendalam. Jika diartikan secara keseluruhan Tut Wuri Handayani bertujuan untuk menciptakan pribadi yang Mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Dan diharapkan akan muncul generasi baru yang akan berani memimpin tanpa menunggu orang lain untuk memimpin.
Adapun dorongan tersebut dapat berupa moral dan semangat kepada orang lain. Maka dari itu pendidikan mengambil semboyan ini, agar pendidikan menjadi sebuah perantara membentuk generasi mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Maka dimasa yang akan datang dengan pendidikan yang dimilikinya orang tersebut tidak akan mudah untuk diperalat.

Kesimpulan
Secara keseleruhuan makna Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani merupakan kriteria bagi pemimpin maupun calon pemimpin. Mulai dari ajaran Ing Ngarso Sun Tulodo yang mengharuskan pemimpin menjadi teladan, Ing Madyo Mbangun Karso seorang pemimpin harus berbaur, dan Tut Wuri Handayani yang mengajarkan sikap mandiri dan tidak tergantung pada orang lain.
Bilamana seseorang telah berhasil menerapkan dengan tepat ajaran kepemimpinan Ki Hajar Dewantara ini maka niscaya kemakmuran dan kesejahteraan akan meliputi orang yang dipimpinnya.

Penutup
Di penutup tulisan ini kami suguhkan kaligrafi semar yang lain karya Soenarto Timoer. Gambar Semar yang dibuat dengan aksara jawa ini sangat terkenal. Didalamnya termuat ke-20 aksara jawa yang disusun dalam empat baris kalimat. Keempat baris kalimat itu berisi filsafat ha-na-ca-ra-ka yang khas dengan kandungan ilmu kejawen mengenai asal dan tujuan manusia (Sangkan paraning dumadi)

Ke-4 filsafat tersebut memuat ha-na-ca-ra-ka-da-ta-sa-wa-la-pa-da-ja-ya-nya-ma-ga-ba-tha-nga, yang tersusun sebagai berikut :

HANANING CIPTA RASA KARSA
DATAN SALAH WAHYANING LAMPAH
PADANG JAGADE YEN NYUMURUPANA
MARANG GAMBARANING BATHARA NGATON

Album kegiatan BLAZERIAN SEMAR MESEM

No comments :

Post a Comment